Donghae’s Story

Gadis itu tersenyum saat melihatku memasuki pintu, senyuman yang menurutku ̶ dan semua orang yang melihatnya ̶ berbeda dengan senyuman yang biasa ia berikan kepada orang lain. Senyuman yang khusus buatku. Senyuman yang hanya ia berikan kepadaku, orang yang sudah sewindu ini ia cintai. Ia berdiri dari tempat duduknya mengulurkan tangannya, tanganku menyambut untuk menjabat tangannya.

“Sudah dua tahun ternyata kita tidak bertemu” Ujarku sambil menduduki kursi yang ada didepannya

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“yah, seperti inilah. Berpindah tugas tiap tahunnya, seorang polisi harus selalu siap dipindahkan tugas dimana saja dan kapan saja. Beruntung aku dibebas tugaskan selama satu bulan. Terhitung sejak tiga hari lalu” ujarku

Ia hanya membalas ucapanku dengan senyuman.

“Dan bagaimana dengan dirimu?” aku merindukanmu, apakah kau juga merindukanku?

“seperti biasa, menghabiskan waktu di caffe, menulis buku ditenami segelas americano dan melakukan beberapa perjalanan untuk booksign”

“Kau terlihat menikmati pekerjaanmu sebagai penulis”

“Ya, dari dulu aku selalu berharap suatu saat buku karyaku akan terpajang disalah satu rak toko buku”

Aku mengangguk. Hening tercipta diantara kami.

Aku kemudian meluruskan kakiku meneguk teh melati yang kupesan. Berbeda dengan dia yang yang sangat menggilai kopi, aku memilih untuk menghidari kopi dan hanya meminum teh melati. Aku tidak suka kopi karena minuman itu selalu membuatku terjaga semalaman setelah meminumnya.

“Kau tahu, aku sedaang menulis cerita tentang kita untuk novel selanjutnya” ia membuka pembicaraan.

“Tentang kita?”

“Ya, tentang kita, aku dan kamu. Tentang perasaanku kepadamu, bagaimana selama delapan tahun ini aku berusaha untuk membuatmu jatuh cinta juga kepadaku. Memang sedikit memalukan buatku, tapi aku rasa pembaca akan menyukai kisah-kisa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku juga sudah memikirkan bagaimana ending dari kisah ini” ucapnya panjang lebar.

Aku tidak mengerti dengan pemikiran gadis ini. Ia begitu berani menceritakan tentang kisah memalukannya ̶ ya, menurutku itu memalukan bagaimana seorang wanita mengejar pria betahun-tahun. Aturannya, seharusnya pria yang mengejar dan memperjuangkan hati dan cita seorang wanita. Aturan tidak tertulis itu bahkan sudah berlaku sejak jaman purba kala.

Aku menatapnya dengan heran “Kau yakin tidak masalah untuk menceritakan kisahmu kedalam novelmu?”

“Ya, aku tidak masalah. Mungkin aku bisa sedikit bangga karena kisah memalukanku akan menghasilkan uang” ucapnya sambil tertawa kecil

Ia kemudian meminun sedikit americanonya yang sudah agak dingin.

“Lalu, bagaimana dengan ending ceritanya? Bukankah aku belum pernah memberikan jawaban tentang perasaanmu kepadaku, maksudku bahkan sampai saat ini aku belum menerima atau menolak perasaanmu kan. Apa kau mengarang cerita akhirnya?”

Ia mengambil tas yang ia letakkan di bangku yang ada di sebelah kanannya, kemudian mengluarkan sebuah kartu berwarna biru didalamnya. Bisa kutebak itu adalah kartu undungan. Ia kemudian memberikannya kepadaku, berharap tebakanku mengenai nama siapa yang tertlis didalam kartu ini adalah salah.

Gadis itu memberikan kartu itu kepadaku.

“Ini ending-nya, akhirnya wanita itu menyerah terhadap perasaan cintanya terhadap pria delapan tahunnya tersebut, seiring dengan ia mencoba melupakan, ia menemukan pria lain yang mencintainya dan ia juga mulai mencintai pria lain tersebut dan akhirnya ia akan segera menikah dengan pria lain tersebut”

Aku menatapnya tidak percaya, berharap kemudian ia tertawa dan mengejekku bahwa aku telah terperangkap dalam jebakan april mop-nya. Tapi itu tidak mungkin karena ini bulan juli, bukan april.

“Kau akan menikah?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

“Ya, sabtu depan. Kuharap kau masih disini dan menghadiri pernikahanku, Lee Donghae” ia tersenyum, aku dapat melihat dengan jelas rona bahagia diwajahnya tersebut.

“Akan kupastikan untuk menyempatkan datang. Selamat, aku turut berbahagia. Ia beruntung mendapatkanmu,” ucapku sambil mencoba memasang ekspresi bahagia diwajahku.

Ia tertawa bahagia mendengar ucapanku.

“Justru akulah yang beruntung mendapatkannya, kau tahu ia rela menunggu selama tiga tahun sampai aku bisa melupakanmu dan belajar untuk mencintainya”

Mendengar ucapannya tersebut, rasa sakit secara perlahan mulai menjalar kehatiku. Menyesal bahwa betapa bodohnya diriku yang tidak menyadari bahwa selama ini mulai mencintainya. Terlalu gengsi untuk mengakuinya dan membirakan gadis itu secara perlahan meninggalkanku dan perasaannya cintanya kepadaku. Saat ia mengatakan menyerah pada perasaannya, saat itu pula aku tahu, bagaimana rasanya patah hati yang dirasakan wanita itu kepadaku dulu.

Mulai saat ini giliranku untuk mencintainya selama delapan tahun…

Atau mungkin untuk selamanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s