#1st Challenge: 10 Day Blog Challenge

Komorebi Yowa

1st

cr pict: here

Seperti judulnya, ini adalah tantangan pertama di Jenny BerryWood. Terinspirasi(?) dari twit-nya Kim Seokjin: 진스타 (Jin’s Festa), akhirnya aku nyari-nyari tentang ‘to do list’ (karena mau bikin sendiri gak bisa *pfft). Selain dapet ‘to do list’, aku juga nemu ’10 Day Blog Challenge’.

View original post 841 more words

Advertisements

(1)

Disty menggoyang-goyangkan kepalanya, menikmati suara musik dari earphone yang tersambung dengan hanndphonenya. suara soloist pria yang akhir-akhir ini sedang naik daun dan banyak digandrungi pria, maupun wanita ̶ termaksud Disty. Disty bahkan pernah beberapa kali menyaksikan langsung pertunjukan konser penyanyi tersebut.

Disty kemudian menatap layar handphonenya, lalu menghela nafas. Jam yang tertera di layar menunjukan pukul 9.23 malam. Katanya cuman sebentar, udah sampe lumutan gini belum datang juga. Berhipobolis. Ia memasukan kembali handphone kedalam saku jaketnya sambil kemudian menyenderkan pungnggungnya kekursi diteras rumah wali kelasnya ̶ atau lebih tepah mantan wali kelasnya.

Berbicara mengenai wali kelas, disty dan teman-teman sekelasnya baru saja selesai merayakan pesta kejutan ulang tahun wali kelasnya sekaligus pesta perpisahan sebelum nanti mereka akan merantau kekota lain untuk melajutkan kuliah.

Setelah acara selesai, seharusnya Disty diantar pulang oleh Reno, dan Disty sudah mengiyakan ajakan Reno untuk pulang bersama. Namun kemudain Awan meminta dengan sedikit agak memaksa agara Disty pulang bersamanya saja, tapi disty harus menunggu sebentar karena awan harus kembali kerumahnya terlebih dahulu sebelum mengantar pulang disty. Tentu saja Disty langsung setuju dan membatalkan ajakan Reno. Paling tidak Disty punya waktu extra 20 menit bersama Awan selama perjalanan pulang sebelum akhirnya besok ia akan meninggalkan Awan untuk melanjutkan kuliahnya di Bandung.

Disty kembali mengambil handphone­­-nya, melihat tracklist lagu yang ada. Semenit kemudian Disty melihat mobil hitam Awan memasuki halaman rumah wali kelasnya. Disty langsung melepaskan earphonenya, memasukan kedalam tasnya dan kemudian menghapiri mobil Awan.

”Maaf, lama menunggu” ucap Awan ketika Disty memasukin mobil.

“Gak masalah, saya tadi hampir lumutan ajah kok waktu nunggu kamu” jawab Disty pura-pura ngambek. Hanya pura-pura, mana mungkin Disty bisa ngambek kepala laki-laki “istimewa”-nya tersebut.

“Manusia tidak akan lumutan hanya karena menunggu beberapa menit”

“Tujuh belas menit Awan, bukan beberapa menit” debat Disty.

“Baiklah, Awan yang salah dan Disty yang benar. Maafkan aku oke?!” Awan tersenyum, kemudian membelai puncak kepala Disty. Tanpa awan ketahui kebiasaannya membelai puncak kepala Disty adalah salah satu alasan kenapa gadis itu berat meninggalkan kota ini, karena di Bandung tidak akan ada Awan ̶ dan kebiasaan Awan membelai kepala Disty.

Suasana hening tercipta di dalam mobil tersebut, masing masing tidak tahu lagi harus memulai percakapan apa. Awan fokus memperhatikan setir mobilnya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Disty sibuk membuat pola abstak dengan jarinya pada kaca mobil disampingnya. Kebiasan Disty ketika sedang bingung. Awan kemudiam mebalik tubuhnya kebelakan, berusaha meraih sebuah kotak yang ada di kursi belakang mobilnya. Sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang dengan pita biru manis di atasnya. Awan meletakan kotak tersebut ke pangkuan Disty.

“Apa ini?” ini menganggkat kotak tersebut kemudian menggoyangkannya, menebak apa isi dari kotak tersebut. Tanpa menunggu ijin dari si pemberi kado tersebut Disty membukanya. Sebuah boneka Winnie The pooh yang sedang memeluk pot berisi madu. Gadis itu langsung mengambil boneka tersebut dan memeluknya. Hadiah pertama yang ia dapat dari Awan.

“Balasan untuk hadiah topi kemarin” jawab Awan.

Disty teringat kejadian beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali Disty menyuruh Awan kerumahnya untuk memberikan Awan sebuah topi sebagai hadiah perpisahan mereka. Disty ingat bagaimana wajah awan yang tidak karu-karuan dengan kantung mata yang terlihat jelas akibat begadang berhari-hari, belajar untuk persiapan tes masuk Akademi polisi beberapa bulan lagi.

Bahagia? Tentu saja, karena ini adalah hadiah pertama yang ia dapat dari awan dan mungkin saja ia satu-satunya gadis yang mendapatkan hadiah dari Awan. Tapi kenapa bonekanya Winnie The pooh?

“Kenapa boneka Winnie The Pooh? Kau tau kan aku lebih suka Doraemon”

“Boneka Doraemon milikmu sudah terlalu banyak, nanti kamu bisa lupa yang mana boneka pemberian dariku”

“Jadi kamu ingin aku tidak melupakan hadiah darimu?”

“Tentu saja”

“Baiklah, kalau begitu boneka ini satu-satunya yang akan terpajang di kamar kostanku nanti, jadi aku akan tidak lupa boneka pemberianmu” ujar Disty Tersenyum. Gadis itu mengeratkan pelukannya di boneka pemberian Awan

Awan ikut tersenyum melihat tingkah gadis itu yang tersenyum sambil memeluk erat boneka pemberiannya, seolah takut boneka tersebut lepas dari tangannya dan hilang. Awan tidak tahan untuk tidak mengelus kepala gadis itu lagi.

Dan kemudian mobil melajur perlahan meninggalkan halaman rumah wali kelas mereka.

Donghae’s Story

Gadis itu tersenyum saat melihatku memasuki pintu, senyuman yang menurutku ̶ dan semua orang yang melihatnya ̶ berbeda dengan senyuman yang biasa ia berikan kepada orang lain. Senyuman yang khusus buatku. Senyuman yang hanya ia berikan kepadaku, orang yang sudah sewindu ini ia cintai. Ia berdiri dari tempat duduknya mengulurkan tangannya, tanganku menyambut untuk menjabat tangannya.

“Sudah dua tahun ternyata kita tidak bertemu” Ujarku sambil menduduki kursi yang ada didepannya

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“yah, seperti inilah. Berpindah tugas tiap tahunnya, seorang polisi harus selalu siap dipindahkan tugas dimana saja dan kapan saja. Beruntung aku dibebas tugaskan selama satu bulan. Terhitung sejak tiga hari lalu” ujarku

Ia hanya membalas ucapanku dengan senyuman.

“Dan bagaimana dengan dirimu?” aku merindukanmu, apakah kau juga merindukanku?

“seperti biasa, menghabiskan waktu di caffe, menulis buku ditenami segelas americano dan melakukan beberapa perjalanan untuk booksign”

“Kau terlihat menikmati pekerjaanmu sebagai penulis”

“Ya, dari dulu aku selalu berharap suatu saat buku karyaku akan terpajang disalah satu rak toko buku”

Aku mengangguk. Hening tercipta diantara kami.

Aku kemudian meluruskan kakiku meneguk teh melati yang kupesan. Berbeda dengan dia yang yang sangat menggilai kopi, aku memilih untuk menghidari kopi dan hanya meminum teh melati. Aku tidak suka kopi karena minuman itu selalu membuatku terjaga semalaman setelah meminumnya.

“Kau tahu, aku sedaang menulis cerita tentang kita untuk novel selanjutnya” ia membuka pembicaraan.

“Tentang kita?”

“Ya, tentang kita, aku dan kamu. Tentang perasaanku kepadamu, bagaimana selama delapan tahun ini aku berusaha untuk membuatmu jatuh cinta juga kepadaku. Memang sedikit memalukan buatku, tapi aku rasa pembaca akan menyukai kisah-kisa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku juga sudah memikirkan bagaimana ending dari kisah ini” ucapnya panjang lebar.

Aku tidak mengerti dengan pemikiran gadis ini. Ia begitu berani menceritakan tentang kisah memalukannya ̶ ya, menurutku itu memalukan bagaimana seorang wanita mengejar pria betahun-tahun. Aturannya, seharusnya pria yang mengejar dan memperjuangkan hati dan cita seorang wanita. Aturan tidak tertulis itu bahkan sudah berlaku sejak jaman purba kala.

Aku menatapnya dengan heran “Kau yakin tidak masalah untuk menceritakan kisahmu kedalam novelmu?”

“Ya, aku tidak masalah. Mungkin aku bisa sedikit bangga karena kisah memalukanku akan menghasilkan uang” ucapnya sambil tertawa kecil

Ia kemudian meminun sedikit americanonya yang sudah agak dingin.

“Lalu, bagaimana dengan ending ceritanya? Bukankah aku belum pernah memberikan jawaban tentang perasaanmu kepadaku, maksudku bahkan sampai saat ini aku belum menerima atau menolak perasaanmu kan. Apa kau mengarang cerita akhirnya?”

Ia mengambil tas yang ia letakkan di bangku yang ada di sebelah kanannya, kemudian mengluarkan sebuah kartu berwarna biru didalamnya. Bisa kutebak itu adalah kartu undungan. Ia kemudian memberikannya kepadaku, berharap tebakanku mengenai nama siapa yang tertlis didalam kartu ini adalah salah.

Gadis itu memberikan kartu itu kepadaku.

“Ini ending-nya, akhirnya wanita itu menyerah terhadap perasaan cintanya terhadap pria delapan tahunnya tersebut, seiring dengan ia mencoba melupakan, ia menemukan pria lain yang mencintainya dan ia juga mulai mencintai pria lain tersebut dan akhirnya ia akan segera menikah dengan pria lain tersebut”

Aku menatapnya tidak percaya, berharap kemudian ia tertawa dan mengejekku bahwa aku telah terperangkap dalam jebakan april mop-nya. Tapi itu tidak mungkin karena ini bulan juli, bukan april.

“Kau akan menikah?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

“Ya, sabtu depan. Kuharap kau masih disini dan menghadiri pernikahanku, Lee Donghae” ia tersenyum, aku dapat melihat dengan jelas rona bahagia diwajahnya tersebut.

“Akan kupastikan untuk menyempatkan datang. Selamat, aku turut berbahagia. Ia beruntung mendapatkanmu,” ucapku sambil mencoba memasang ekspresi bahagia diwajahku.

Ia tertawa bahagia mendengar ucapanku.

“Justru akulah yang beruntung mendapatkannya, kau tahu ia rela menunggu selama tiga tahun sampai aku bisa melupakanmu dan belajar untuk mencintainya”

Mendengar ucapannya tersebut, rasa sakit secara perlahan mulai menjalar kehatiku. Menyesal bahwa betapa bodohnya diriku yang tidak menyadari bahwa selama ini mulai mencintainya. Terlalu gengsi untuk mengakuinya dan membirakan gadis itu secara perlahan meninggalkanku dan perasaannya cintanya kepadaku. Saat ia mengatakan menyerah pada perasaannya, saat itu pula aku tahu, bagaimana rasanya patah hati yang dirasakan wanita itu kepadaku dulu.

Mulai saat ini giliranku untuk mencintainya selama delapan tahun…

Atau mungkin untuk selamanya…